Penanaman Mangrove di Kawasan Pesisir Desa Pelauw Pulau Haruku Sebagai Pencegahan Pencemaran Air Tanah Dangkal Akibat Intrusi Air Laut
oleh
Zulfiah, S.T., M.T.; Samsul Bahri, S.Pd., M.Si.; dan Delpina Nggolaon, S.Pd., M.Si.
Desa Pelauw di Pulau Haruku, Maluku, menghadapi masalah serius akibat intrusi air laut yang mencemari sumber air tanah dangkal. Kondisi ini tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat dan produktivitas pertanian pesisir. Data geolistrik menunjukkan nilai resistivitas rendah (<7 Ωm) di beberapa titik sumur, mengindikasikan kontaminasi air laut yang parah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya intrusi air laut, dan memulihkan fungsi ekologis pesisir melalui penanaman 500 bibit mangrove jenis Rhizophora dan Avicennia. Kegiatan penanaman mangrove dilakukan di Nama’ea dan Negeri Pelauw. Sebanyak 500 bibit mangrove yang diperoleh dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Waihapu Batu Merah, Ambon. Selain penanaman mangrove, dilakukan juga pengambilan sampel sedimen sebagai substrat penanaman mangrove dengan metode coring. Sampel tersebut terdiri atas empat lapisn dengan kedalaman yang teramati hingga 73 cm. Sampel menunjukkan sedimen pasir dengan warna kecoklatan hingga abu-abu dan memiliki ukuran butir pasir kasar hingga pasir sangat halus. Selain itu sedimen tersebut juga didominasi dengan fragmen berupa pecahan koral dan cangkang moluska. Pengamatan sifat fisik airtanah diambil dari 19 sumur, baik sumur bor maupun sumur galih. Hasil pengukuran menunjukkan nilai salinitas 0.01-0.04% dan pH 5.74-8.07. Berdasarkan hasil evaluasi pertumbuhan mangrove pada bulan pertama ini menunjukkan pertumbuhan yang baik, hanya ditemukan beberapa pohon yang mati.