Ambon – Tim riset Universitas Pattimura (UNPATTI) berhasil menuntaskan penelitian pengembangan prototipe alat deteksi kanker paru berbasis suseptibilitas biomagnetik yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Penelitian tersebut telah memasuki tahap akhir melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Akhir Riset LPDP yang dilaksanakan secara daring pada 6 Juli 2026.
Penelitian ini memperoleh dukungan pendanaan LPDP sebesar Rp 1,19 miliar melalui skema pendanaan riset nasional yang kompetitif. Dukungan tersebut memungkinkan pengembangan prototipe SM 1.0 hingga mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6.
Penelitian dipimpin oleh Ronaldo Talapessy, S.Si., M.Sc., Ph.D. bersama anggota tim Dr. Estevanus K. Huliselan, S.Pd., M.Si., Prof. Dr. Pieter Kakisina, S.Pd., M.Si., dan Dr. Ivonne Telussa, S.Si., M.Si. dengan judul:
“Pengembangan Prototipe Alat Deteksi Kanker Paru Berbasis Suseptibilitas Biomagnetik (Biomagnetic Susceptibility).“
Pelaksanaan penelitian dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Ambon, Provinsi Maluku sebagai mitra penelitian dalam mendukung pengembangan teknologi deteksi dini penyakit berbasis instrumentasi biomagnetik.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus kanker paru di Indonesia serta pentingnya teknologi skrining yang mampu mendukung deteksi dini secara lebih cepat, noninvasif, dan berpotensi lebih terjangkau. Melalui pendekatan pengukuran suseptibilitas biomagnetik, tim peneliti mengembangkan suatu sistem instrumentasi yang mampu mengukur perubahan sifat magnetik material sebagai dasar pengembangan metode skrining kanker paru.
Salah satu capaian utama penelitian adalah keberhasilan mengembangkan SM 1.0, yaitu prototipe instrumen pengukuran suseptibilitas biomagnetik yang telah berfungsi secara operasional. Instrumen ini telah melalui proses kalibrasi dan validasi metrologi yang menunjukkan kesesuaian hasil pengukuran dengan instrumen acuan, sehingga memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan teknologi pada tahap berikutnya.
Selain memaparkan capaian teknis, tim peneliti juga menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi selama pelaksanaan penelitian, mulai dari proses pengembangan instrumen hingga validasi. Meskipun demikian, seluruh target penelitian dapat diselesaikan sesuai dengan roadmap yang telah ditetapkan.
Penelitian ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan teknologi instrumentasi biomagnetik di Indonesia serta memperkuat kontribusi Universitas Pattimura dalam menghasilkan inovasi kesehatan berbasis riset yang siap dikembangkan melalui kolaborasi dengan institusi kesehatan, pemerintah, dan industri menuju implementasi di masa mendatang.